Kalau sedang penat dan suntuk, jawaban pertama yang muncul kalau ditanya "Nia mau kemana?" mulut dan otak kompak menjawab JOGJA. Dalam postingan kali ini, saya mau sharing tempat yang menurut saya baru dan must be visited kalau kamu ke daerah Gunung Kidul. Sekaligus ini pengalaman unik saya bersama teman-teman.
![]() |
| Embung Batara Sriten |
Setiba di Surabaya, saya langsung googling tentang Embung Batara Sriten ini. Ternyata, waduk buatan ini merupakan pengairan untuk wilayah Gunung Kidul. Letaknya di perbukitan Batur Agung. Kalau kalian mentas dari main-main air di Goa Pindul, nah lokasinya nggak jauh dari situ.
Embung Sriten ini digadang-gadang akan menjadi telaga buatan tertinggi di Jogjakarta, sekaligus menjadi sumber pengairan kebun buah Embung Sriten, yang bakal menjadi tempat wisata baru di Jogja. Gila ya, tambah banyak aja list must be visited place in Jogja, hihihi.
Mengutip dari www.njogja.co.id Kabupaten Gunung Kidul mempunyai kontur wilayah yang tersusun dari batuan karst atau batuan kapur. Nah, waktu saya kesana memang betul jalanan menuju Embung Sriten adalah batu kapur berwarna putih, besar dan terjal-terjal.
![]() |
| Jalanan menuju Embung Batara Sriten |
Awalnya saya dan sahabat saya, Nunu, tidak terpikirkan untuk pergi ke tempat ini. Jangankan terpikirkan, mendengar Embung Sriten saja tidak pernah. Awal cerita saat kami bertiga, Saya, Nunu dan teman baru saya yang kebetulan kuliah di Jogja, Ony, istirahat setelah bermain air di Goa Pindul. Biasalah, sesama wisatawan kami saling tegur sapa dengan wisatawan lain, saling menanyakan dari mana dan setelah ini destinasi wisata akan kemana.
Lalu teman wisatawan kami memberitahukan ada waduk di atas bukit, namanya Embung Sriten. "Deket dari sini kok!" tegasnya saat itu. Dengan sigap, Ony langsung membuka instagram dan menemukan keajaiban semesta melalui hastag #embungsriten. Berangkatlah kami kesana, padahal rencananya setelah dari Goa Pindul kami akan ke Hutan Pinus Imogiri.
Yap, memang benar dekat dari Goa Pindul. Hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit. Selama perjalanan kami bergantung pada kekuatan mbak Waze dan Google Maps. Bagi yang menggunakan Simpati, jaringan masih terkoneksi sampai atas kok tenang saja.
Bagian terdrama dalam perjalanan ini adalah ketika mobil yang kami tumpangi bolak-balik mati. Kami menyewa sejenis mobil sedan, ukuran mini untuk mencapai jalanan terjal dan menanjak. Sang driver, Ony, berulang kali mengangkat handrem, memundurkan mobil beberapa meter untuk mengambil ancang-ancang dengan menekan gas lebih dalam.
Terhitung, delapan kali sudah mobil kami mati di tengah jalan karena nggak kuat nanjak :'( si kecil berulang kali disugesti. "Ayo, kamu bisa, jangan mau kalah sama inn*va yang badannya gede," dan akhirnya kuatjuga si imut bawa kita keatas dengan matikan AC. Si Nunu sudah hopeless di tengah jalan dan minta putar balik saja. Sayang, jalanan tidak memungkinkan untuk putar balik karena hanya muat untuk satu mobil dan sisi jalan adalah JURANG!
Harapan kami hanya satu saat itu, jangan sampai ada mobil turun dari atas 😬😆
Lalu. Apa kabar jantung? Huwaduh sudah merosot kali tuh. Saya cuman bisa diam, sementara Nunu sudah komat-kamit di depan. Ony? Masih dengan konsentrasi dan niat penuh membawa kita menemukan Surga di Balik Keanggunan Jogja.
Well, perasaan kami sedikit plong begitu mbak google maps dan waze kompak bilang "you'll be arrived in 2 minutes,"
Beneran sudah sampai? Iya sudah sampai, di gerbang pintu karcis maksudnya 😅 Embung Sritennya masih jauh, masih kurang lebih 3 kilometer dengan jalan dari bebatuan kapur, yang tajam dan besar. Begitu melihat jalan masuk ke Embung, kami sadar diri dan tahu diri, si imut nggak bakalan bisa naik sampai atas. Cukuplah kita berbangga pada dia sudah mengantarkan kita hingga pintu karcis, selanjutnya biarlah kami dan kaki kami yang melanjutkan misi ini.
"Jalan aja yuk, kayaknya nggak kuat deh mobilnya," kata Nunu.
Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki. Si bapak penjaga pintu karcis menegur kami. "Dibawa aja mbak mobilnya, jauh lho, masih 3 kiloan lagi," katanya. Yah, daripada terjadi apa-apa pada si kecil dan tidak bisa membawa kami keliling Jogja keesokan hari, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
Saat itu ada (dugaan kami) pegawai Pemkab Gunung Kidul yang (sepertinya) bekerja memantau Embung Sriten. Darimana kami tahu beliau pegawai Pemkab? Pertama, beliau berseragam dan kedua beliau membawa peralatan yang sekiranya berkaitan dengan pengairan.
Begitu kami sampai, bapak Pemkab Gunung Kidul (sebut saja begitu), langsung memberi tahu ke kami bahwa dari ketinggian ini, kami bisa melihat Waduk Gajah Mungkur (meskipun ga kelihatan juga karena ketutup pohon-pohon). Di sisi lain, kami dapat melihat gemerlap lampu Kota Klaten kalau malam (sayang kami datang pas sore hari).
Saat itu ada (dugaan kami) pegawai Pemkab Gunung Kidul yang (sepertinya) bekerja memantau Embung Sriten. Darimana kami tahu beliau pegawai Pemkab? Pertama, beliau berseragam dan kedua beliau membawa peralatan yang sekiranya berkaitan dengan pengairan.
"Jenengan saking pundi pak?" Tanyaku mencoba sok asik, hehehe. "Kulo saking mriki mawon kok mbak, bade ngurusi waduk," jawabnya (sok) misterius.
Beliau pula yang menegaskan sekali lagi pada kami; "YAKIN MAU JALAN KAKI? JAUH LHO!" tetapi memang tekad kami sudah bulat. Jalan kaki is the best solution.
Karena si bapak nggak tega, setelah beberapa meter kami melangkah beliau menyusul kami menggunakan motor. "Hey rek-rek, kayaknya kita mau di drop satu-satu deh sama bapaknya, naik motor," tukas Nunu penuh percaya diri dan rasa Ge-eR tinggi.
Dugaan Nunu benar! Si bapak mau kasih tumpangan ke kami, taaapiiiii bukan naik motor dan diantar satu-satu. Melainkan diantar sekaligus! Naik pick up! Ah, senengnya bukan main kita.
"Kalau jalan jauh mbak, beneran. Tunggu sini sebentar, saya nunutkan pick up teman saya," kata si bapak. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan naik pick up. Itulah sebabnya, saya ambil hape untuk mengabadikan moment lewat instagram stories hehehe.
Setelah "menikmati" perjalanan yang maha dahsyat. Akhirnya, sampai lah kami di Embung Sriten..
![]() |
| Foto ini diambil begitu turun dari pick up |
![]() |
| Dancing in the air |
![]() |
| Pemandangan dari Embung Sriten |
![]() |
| Si Ony lagi Semedi Ala-Ala 😜 |
![]() |
| Fake banget sih, elah 😝😝 |
![]() |
| Embung Sriten |
Begitu kami sampai, bapak Pemkab Gunung Kidul (sebut saja begitu), langsung memberi tahu ke kami bahwa dari ketinggian ini, kami bisa melihat Waduk Gajah Mungkur (meskipun ga kelihatan juga karena ketutup pohon-pohon). Di sisi lain, kami dapat melihat gemerlap lampu Kota Klaten kalau malam (sayang kami datang pas sore hari).
"Kalau mau sampai sore di sini bagus, bisa lihat sunset. Terus kalau ke sini pagi, bisa lihat awan kayak kapas," terangnya kepada kami.
Perjalanan kami yang menegangkan terbayar dengan pemandangan alam dari sini. Seolah kami masih berada di bumi, namun dapat menyentuh langit. Perpaduan warna yang pas, dari hijau nya pohon, putihnya awan dan birunya langit. Tak hanya itu, di sini kalian bisa stock udara bersih sebanyak mungkin untuk paru-paru kalian.
Kalian yang ingin berkunjung ke sini, kami sarankan menggunakan sepeda motor saja. Atau yang bawa mobil, parkir saja mobilnya di bawah. Lalu ke atas naik ojek.
Inilah cerita #nekadtraveller kami.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar