Kata Nia

Rabu, 01 Maret 2017

Nenek 97 tahun Jualan Gudeg

"Sehat terus nggih mbah!" Ujar salah satu pembeli setelah membayar seluruh bungkusan nasi gudeg yang dia pesan. "Nggih nak, nggih, maturnuwun," Balas Mbah Lindu.

Sejujurnya, kuliner Jogja yang paling ngangenin versi saya adalah nasi kucing dan oseng-oseng mercon. Gudeg, yang konon katanya adalah kuliner asli Jogja justru saya hindari. Sebenarnya ini tergantung selera lidah masing-masing, hanya saja saya tidak terlalu suka makanan dengan citra rasa manis. Saya lebih suka makanan dengan citra rasa asin. That's way i am cheese lover.

Hari pertama berkunjung ke Jogja, sebelum ke Goa Pindul kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Tour Guide kami, Ony, menawarkan sarapan Gudeg di kawasan Malioboro.

"Nggak terlalu manis kok Nay, yang jual seniornya penjual Gudeg di Jogja," katanya.

Oke, berhubung Ony adalah seorang koki, jadi saya percaya dengan sepak terjang lidahnya di dunia kuliner Jogja, hehehe. Dari NDalem Ngadiwinatan, tempat kami menginap menuju lapak Mbah Lindu tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu 10 sampai 15 menit menggunakan mobil. 

Begitu tiba, yang saya kagumi bukan tatanan menunya, melainkan sosok Mbah Lindu. Beliau berpostur tubuh kecil, kulitnya keriput dan sedikit gelap. Soal kecepatan melayani penjual, dia tak kalah gesit dengan waitress restaurant.


Mbah Lindu saat berjualan didampingi cucunya

Mbah Lindu menjual gudeg pada umumnya. Bedanya, untuk menu nasi, di lapak Mbah Lindu ini bisa diganti dengan bubur. Kami membeli tiga porsi, plus aqua gelas 3 buah. Saat ditanya berapa jumlah yang kami makan, dengan tangkas si mbah langsung menjawab "63 ribu nak!" tanpa menanyakan terlebih dahulu apa saja lauk yang kami pilih dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menghitung berapa nominal yang kita makan.

Beliau menghafalkan apa saja yang sudah dia letakkan di dalam bungkus saji, kemudian menghitung jumlah harganya, sebelum diserahkan kepada pembeli!

Ony sempat bertanya kepada beliau, semenjak kapan berjualan gudeg. Si mbah menjawab bahwa dia tidak ingat pasti tahun berapa, hanya saja beliau menaksir antara tahun 1950 an. Kemudian kami bergeser pada cucunya yang mendampingi beliau berjualan. Saya bertanya, si mbah usia berapa sekarang dan sang cucu menjawab 97 tahun. Artinya, 3 tahun lagi, Mbah Lindu akan berusia 100 tahun.

Di usia serenta itu, Mbah Lindu masih aktif menjual gudeg. Di usia setua itu, ingatan dan kemampuan hitung mbah Lindu masih tinggi. Semoga, jika kita dikaruniai Allah umur panjang, kita bisa seaktif, seenergik dan sekuat Mbah Lindu ya, aamiin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar